Archive

Posts Tagged ‘analisis laporan keuangan’

Analisis Laporan Keuangan

October 20, 2012 3 comments

bank-paper-balance-284709-mMateri Pembelajaran Analisis Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:

  • Mengenal Laporan Keuangan
  • Analisis Rasio Keuangan
  • Cara Menganalisis Laporan Keuangan
  • Masalah-masalah dalam Analisis Laporan Keuangan

ANALISIS RASIO KEUANGAN

Liquidity Ratio

Current ratio

Quick ratio

Cash ratio

Activity Ratio

Inventory turnover

Average days in inventory

Receivable turnover

Days Sales Outstanding (DSO)

Fixed assets turnover

Total assets turnover

Leverage Ratio

Debt ratio

Time interest earned ratio

Cash coverage ratio

Long-term debt to equity ratio

Profitability Ratio

Return on Assets

Return on Equity

Profit Margin Ratio

Basic Earning Power

Market Value Ratio

Price Earning Ratio (PER)

Dividend yield

Dividend payout ratio (DPR)

Market to book ratio

Kembali ke Materi Kuliah: Manajemen Keuangan

Artikel terkait Materi Kuliah: Manajemen Keuangan

Pustaka:

  1. Farah Margaretha, 2005, Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan: Investasi dan Sumber Dana Jangka Pendek, Grasindo
  2. I Made Sudana, 2011, Manajemen Keuangan Perusahaan: Teori dan Praktek, Penerbit Erlangga, Jakarta
  3. Mamduh M. Hanafi, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 1, BPFE Yogyakarta

Analisis Perubahan Pendapatan

July 19, 2011 Leave a comment

Outline

  1. Pentingnya analisis perubahan penghasilan dan biaya
  2. Laporan perubahan laba bruto dan analisisnya
  3. Berbagai macam bentuk rasio antar perkiraan di laporan rugi laba sehubungan dengan analisis perubahan pendapatan
  4. Operating rasio
  5. Faktor-faktor yang mempengaruhi laba bersih

Analisis Kecenderungan dan Persentase per Komponen

October 8, 2010 1 comment

I. Analisis Kecenderungan (Trend)

A. Pengertian Analisis Kecenderungan (Trend)

Analisis trend (tendensi posisi) merupakan teknik analisis untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan apakah menunjukkan perubahan naik atau mengalami penurunan (Abdullah, 2oo1: 36).

Apa bedaannya dengan teknik analisis perbandingan?. Perbedaan teknik ini dengan teknik analisis perbandingan terletak pada tahun atau tahun pembanding yang digunakan. Analisis perbandingan menggunakan tahun sebelumnnya sebagai tahun pembanding, sedangkan analisis trend menggunakan tahun dasar (base year) sebagai tahun pembanding.

B. Perhitungan Trend

Hasil perhitungan trend dapat ditunjukkan dalam bentuk persentase atau indeks.  Perhitungan trend dalam bentuk persentase dan indeks dapat dijelaskan sebagai berikut:

Trend dalam Bentuk Persentase

Trend dalam persentase dihitung dengan memilih tahun pertama sebagai dasar perbandingan atau sebagai tahun dasarnya (Djarwanto, 1999: 62). Tahun dasar menurut Jusuf (2000: 93) adalah tahun pertama dari seluruh periode yang dianalisis. Misalnya kita mengadakan analisis trend untuk periode tahun 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, maka tahun yang dijadikan dasar adalah tahun 2005. Tahun dasar ini diberi angka 100%. Data tahun-tahun lainnya dibandingkan dengan data tahun dasar tersebut. Dalam menentukan tahun dasar seperti dikemukakan Harahap (1999: 245) ditentukan dengan melihat arti suatu tahun bisa tahun pendirian, tahun perubahan, atau reorganisasi, dan tahun bersejarah lainnya.

Trend dalam Bentuk Index

Di samping dalam bentuk persentase, juga dapat dilakukan perhitungan kecenderungan dalam bentuk index. Menurut Jusuf (2000: 97) pada prinsipnya adalah sama kecuali tidak dikali dengan 100%. Tahun dasar ditetapkan sebagai angka 1. Data tahun lainnya dibandingkan dengan data tahun dasar.

C. Evaluasi Trend dalam Persentase

Hasil perbandingan angka persentase dalam trend tersebut menunjukkan perubahan relatif dari data keuangan sepanjang kurun waktu tertentu (Djarwanto, 1999: 62). Demikian juga dengan trend dalam bentuk index cara interpretasinya adalah sama.

D. Misleading dalam Analisis Kecenderungan (Trend)

Analisis trend persentase, menurut  Djarwanto (1999: 68) penting untuk melihat hubungan angka persentase dalam trend dengan data absolut (jumlah rupiah) yang dipakai sebagai dasar perbandingan, karena adanya kemungkinan-kemungkinan yang menyesatkan sebagai berikut :

  1. Tahun dasar yang dipilih mungkin tidak representatif untuk beberapa unsur dalam laporan keuangan. Misalnya jumlah kas yang tercantum pada tahun dasar Rp 7.500.000,00 sedangkan jumlah kas pada tahun-tahun berkutnya tidak pernah lebih dari Rp 3.500.000,00. ini berarti jumlah kas pada tahun dasar tidak mencerminkan keadaan jumlah-jumlah kas tahun berikutnya, sehingga perbedaan dalam persentase kelihatan menyolok padahal kenyataannya tidak demikian.
  2. Suatu unsur mungkin telah meningkat dari Rp 5.000,00 menjadi Rp 10.000,00 sedangkan unsur lainnya meningkat dari Rp 10.000.000,00 menjadi Rp 20.000.000,00. Masing-masing unsur menunjukkan kenaikan 100%, walaupun unsur-unsur yang pertama kenaikannya tidak berarti.
  3. Biasanya perubahan sebanyak 100% lebih mendapat perhatian daripada perubahan sebanyak 10% misalnya. Untuk beberapa hal sebenarnya kurang pada tempatnya. Misalnya biaya advertensi yang dibayar di muka (prepaid advertising) mungkin telah naik 100%, sedangkan persediaan barang hanya naik 10%. Yang jelas kenaikan persediaan barang (walaupun hanya 10%) harus mendapat perhatian daripada kenaikan biaya advertensi yang dibayar di muka (meskipun 100%).
  4. Tendensi yang tidak diinginkan mungkin dicerminkan  oleh trend rasio, padahal sebenarnya tidak demikian bila dilihat data rupiahnya. Misalnya utang jangka panjang meningkat 100% sedangkan modal sendiri hanya meningkat 50%. Bila dilihat jumlah rupiah ternyata utang jangka panjang naik dari Rp 50.000,00 menjadi Rp 100.000,00 dan modal sendiri naik dari Rp 800.000,00 menjadi Rp 1.200.000,00. Melihat perubahan dalam jumlah rupiah dari modal sendiri situasinya ternyata tidak mengkhawatirkan.

II. Analisis Persentase per Komponen (Common Size)

A. Pengertian Persentase per Komponen

  1. Menurut Djarwanto (1999: 71), persentase per komponen adalah persentase dari masing-masing unsur aktiva terhadap total aktivanya, masing-masing unsur pasiva terhadap total pasivanya, dan masing-masing unsur laba-rugi terhadap jumlah penjualan netonya. Laporan yang demikian disebut common-size statement.
  2. Menurut Jusuf (2000: 75), common size analysis adalah menganalisis laporan keuangan untuk satu periode tertentu dengan cara membanding-bandingkan pos yang satu dengan pos lainnya. Perbandingan tersebut dilakukan dengan menggunakan persentase di mana salah satu pos ditetapkan patokan 100%.

B. Perhitungan Persentase per Komponen

Metode mengubah jumlah-jumlah rupiah dari masing-masing unsur laporan keuangan menjadi angka persen dari total, dilakukan sebagai berikut (Djarwanto, 1999: 71) :

  1. Nyatakan total aktiva, total pasiva (total utang plus modal sendiri), dan jumlah penjualan netto dengan 100%.
  2. Hitunglah rasio dari masing-masing unsur laporan keuangan dengan totalnya, dengan cara membagi jumlah rupiah masing-masing unsur laporan keuangan itu dengan totalnya.

Metode tersebut dapat dituliskan ke dalam formulasi sebagai berikut (Jusuf, 2000: 76 dan 84):

  1. Persentase per komponen dari neraca, %pos = nilai pos : total aktiva x 100%
  2. Persentase per komponen dari laporan laba-rugi, %pos = nilai pos : nilai penjualan x 100%

C. Evaluasi Persentase per Komponen

Persentase per Komponen dari Neraca

  • Persentase per komponen dari neraca menunjukkan persentase dari masing-masing unsur aktiva dari total aktivanya dan persentase dari masing-masing unsur passiva dari total passivanya (Djarwanto, 1999: 74).
  • Hasil perbandingan dalam persentase tersebut menunjukkan (Jusuf, 2000:79): 1). Peran dari masing-masing account terhadap total aktiva, 2). Peran dari masing-masing pos pembiayaan (utang atau modal sendiri) dalam membiayai aktiva, 3). Analisis ini juga memberikan indikasi mengenai karakteristik bisnis yang bersangkutan.

Persentase per Komponen dari laporan laba-rugi

  1. Persentase per komponen dari laporan laba-rugi menunjukkan besarnya persentase masing-masing unsur laba-rugi dari nilai penjualan nettonya (Djarwanto, 1999: 78).
  2. Hasil perbandingan dalam persentase tersebut menurut (Djarwanto, 1999:78) menunjukkan bagian dari penjualan netto yang telah terserap oleh unsur-unsur seperti beban pokok penjualan, berbagai macam biaya usaha, biaya non operating, pajak perseroan, dan pendapatan bersih sebagai sisanya.

Daftar Pustaka

  1. Abdullah, M. Faisal.2001. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Ed. 1, Cet.1, Malang: UMM Press
  2. Djarwanto. 1999. Pokok-Pokok Analisis Laporan Keuangan, Ed. 1, Yogyakarta: BPFE
  3. Harahap, Sofyan Syafri. 1999. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, Ed. 1. Cet. 2. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
  4. Jusuf, Jopie.2000. Analisis Kredit untuk Account Officer. Cet. 5. Jakarta: PT Gramedia Pustakan Utama

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 99 other followers